JALAN SURGA SI MUNGIL ITU…

  • 8 min read
  • Jan 23, 2021

 

Sepagi-pagi itu, kami kehadiran 2 tamu kecil…

Tamu kecil yang tidak biasa. Tapi akhirnya kami sadar bahwa mereka adalah tamu yang istimewa.

Dua tamu kecil itu adalah 2 bayi kucing yang baru saja lahir. Induknya entah pergi ke mana. Ali, anak ketiga kami, menemukannya di bawah mobil kami yang terparkir di garasi. Yang satu tepat di sisi ban depan mobil -yang hampir pasti akan terlindas jika kami tak melihatnya-. Yang satu lagi terpisah jauh dari saudaranya di dekat ban belakang mobil kami.

Pagi itu adalah pagi yang penuh hujan. Dua kucing kecil itu sudah pasti sangat kedinginan. Tanpa induk. Tanpa alas sehelai pun, tubuh ringkih mereka harus langsung bertemu dengan lantai garasi yang dingin. Bulu-bulu halusnya pun terlalu tipis hingga menampakkan tubuhnya yang masih kemerahan. Bahkan yang seekor dari mereka bahkan belum sempat diambil plasentanya oleh sang induk. Ali, putra kamilah, yang kemudian membantu memotong plasenta itu.

Setelah itu…

“Ambilkan kardus itu, lalu masukkan mereka ke sana, Nak…” ujarku pada Ali.

Kami memang tak bermaksud langsung mengambil kedua kucing mungil itu. Kami masih berharap induknya segera menemukan dan mengambil mereka. Maka, kardus berisi 2 kucing mungil itu sengaja kami letakkan di garasi. Karena tidak ada yang paling baik untuk mereka selain kasih sesosok induk.

Tapi…

Hingga malam menjelang dan udara dingin semakin dingin, sang induk tak kunjung datang menjemput kedua bayi mungilnya. Suara kecil mereka semakin memelas. Awalnya, aku berpikir biarlah mereka tetap di luar. Tapi Ummu Miqdad, bersikeras membawa mereka masuk. Anak-anak kami pun sepakat dengan itu. Bahkan si kecil Rufaidah -yang memang sejak lama memendam hasrat memelihara kucing di dalam rumah- begitu gembira, saat kardus 2 kucing mungil itu akhirnya masuk ke dalam ruang tamu kami.

Itulah pertama kalinya, kami benar-benar memasukkan kucing untuk dirawat di dalam rumah kami!

Itu berarti pula bahwa kami sama sekali tidak punya pengalaman secuil pun tentang merawat kucing. Apalagi merawat bayi kucing yang baru lahir dan ditinggal induknya!

Ummu Miqdad-lah yang paling grasa-grusu mencari tahu tentang semua yang diperlukan. Malam itu juga, kami segera memesan 1 dus susu khusus untuk kucing, lengkap dengan spoit kecil untuk meminumkan susu itu ke mulut mungil 2 bayi kucing itu.

Aku bersama anak-anak lelaki bergegas menyiapkan lampu untuk menghangatkan bayi-bayi kucing mungil itu. Lampu kamar mereka akhirnya kami lepaskan untuk menghangatkan bayi-bayi kucing yang kedinginan itu.

Singkat kisahnya, malam itu menjadi malam yang sibuk dan ramai di rumah kami. Rasanya mirip seperti malam lebaran. Karena hingga pertengahan malam, kami semua masih “hidup”. Bahkan mengatur jadwal bergantian untuk “menyusui” kedua kucing itu setiap 2 atau 3 jam.

Kami mendapatkan kebahagiaan tersendiri malam itu melihat 2 bayi kucing itu mulai bergerak lebih aktif. Saling menaiki. Saling memeluk. Seolah saling berujar: “Kita sama-sama bertahan, ya…Meski ibu tak ada bersama kita.”

Alhamdulillah…

Setidaknya di malam itu, kedua bayi kucing itu dapat melewati malam dengan lebih hangat. Meski tanpa induk mereka…

Kami berharap, di hari esok kami segera dapat mempertemukan mereka dengan induknya. Semoga…

***

Keesokan harinya, tepatnya siang sesudah shalat Zhuhur, Ali -putra kami- melihat induk mereka melintas di depan rumah. Dengan segera ia melompat, berlari menggendong 2 bayi kucing mungil itu menemui ibu mereka!

Ali meletakkan kedua bayi mungil itu di tanah. Sang induk mendekat. Ia mulai menciumi mereka. Alhamdulillah, tampaknya ia mengenali mereka sebagai anak-anaknya. Ia lalu menggigit salah satunya, lalu menggendongnya pergi.

Kami pun menunggu. Yah, menunggu hingga ia datang lagi, menjemput anaknya yang satu lagi.

Tapi…

Sang induk tak kunjung datang. Si kecil yang tertinggal itu terus mengeong. Suaranya sungguh menyayat. Akhirnya, kami pun mengambilnya kembali agar si mungil itu tidak terlalu lama kedinginan. Ali menggendongnya dan memasukkannya kembali ke dalam kardusnya.

Tapi, kini ia sendiri. Tidak ada lagi saudaranya yang selama ini menemani kesebatangkaraan mereka tanpa induk. Bayi mungil itu kini sendiri, tanpa ada saudara yang selama ini saling menghangatkan tubuh.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal…

Setidaknya malam itu, kami bisa lebih berfokus pada si kecil yang tinggal 1 ekor itu…

***

Memasuki hari ke-2 dan hari ke-3, kami masih berusaha mempertemukan si kecil itu dengan induknya. Dimulai sejak pagi, siang, sore bahkan malam, kami terus mengupayakan pertemuan itu. Bukan apa-apa, berdasarkan pengalaman mereka yang selama ini berinteraksi dengan dunia kucing, bayi kucing yang baru saja lahir sangat sulit bertahan hidup hingga 7 hari pertamanya tanpa kehadiran seorang induk! Walau itu sekedar induk susuan, dan bukan induk kandungnya…

Itulah sebabnya, kami bersikeras mempertemukannya dengan sesosok induk. Maka selain mencari induk kandungnya, Ummu Miqdad terus berusaha mencari lewat jejaring sosial, menghubungi para pecinta kucing. Mengulik Youtube dan Instagram, demi apa saja yang terbaik si kucing kecil itu.

Aku masih ingat, upaya terakhir kami malam itu. Kami kembali menemukan induknya. Kami mencoba memancingnya dengan sisa-sisa ikan. Lalu kami mengeluarkan si kecil itu dari kardusnya, dan meletakkannya di tanah. Dan berhasil!

Sang induk mulai mendekatinya, lalu menciuminya. Kami mulai berharap. Tapi dengan segera, harapan kami melayang ke udara malam yang dingin itu. Si Induk tampaknya sudah tidak mengenali anaknya. Yah, saat itu memang sudah hari ke-3 si kecil terpisah dari induknya.

Kami pun memutuskan untuk mengambil kembali kucing mungil itu dengan rasa sedih yang sangat dalam.

Beruntunglah, beberapa waktu sebelumnya, seorang sahabat pecinta kucing, Pak Asparingga, menyatakan bahwa ia siap menerima kucing mungil kami itu dan menyatukannya dengan sang induk yang dimilikinya.

Meski begitu, kami memang masih berharap si mungil itu kembali kepada induk kandungnya sendiri…Tapi itulah yang Allah takdirkan terjadi malam itu. Insya Allah, besok sore, kami sudah janjian dengan Pak Asparingga yang akan “mengadopsi” si mungil kami.

***

Tapi keesokan paginya, si mungil kami itu tampak semakin lemah. Suaranya tidak lagi sekeras sebelumnya. Geraknya tidak lagi serancak hari-hari sebelumnya, yang bergerak ke mana saja meski kedua matanya belum lagi mampu melihat. Ia bahkan beberapa kali mencoba memanjat keluar dari kardus yang menghangatkannya…

Tapi pagi itu, kondisinya semakin mengkhawatirkan…

Maka, Ummu Miqdad meminta izin untuk membawanya ke sebuah rumah sakit hewan di bilangan Jalan Nuri, Makassar. Sekitar pukul 9 pagi, Ummu Miqdad ditemani Ali pun membawa si kucing mungil itu ke sana. Hari itu, aku benar-benar sadar bahwa betapa banyak hal yang ada di dunia ini yang tak kusangka ada, ternyata ada. Termasuk rumah sakit khusus hewan!

Sesampainya di sana, si mungil itu dihangatkan dan didiagnosa. Kesimpulannya: si mungil kami itu mengalami hipotermia. Sebuah kondisi dimana suhu dan temperatur tubuh mengalami penurunan dari batas normalnya, yaitu 35 derajat. “Segera sesampai di rumah, siapkan air gula dan berikan kepada si mungil ini. Satu jam kemudian barulah berikan susunya, Bu…,” demikian pesan bu dokter di sana.

Pukul 12 siang lewat, Ummu Miqdad dan Ali tiba bersama si mungil. Kondisinya semakin payah. Masih ada sekitar 6 jam waktu tersisa hingga janji serah-terima dengan Pak Asparingga di Kamis sore itu, insya Allah.

Kami benar-benar berkejaran dengan durasi 6 jam itu. Berusaha dan berikhtiar sepenuh jiwa agar si mungil bisa bertemu dan disusui oleh induk susuan barunya. Waktu cenderung terasa berjalan lambat. Setiap beberapa saat, kami bergantian memeriksa si mungil itu:

Apakah ia masih bernafas atau tidak?

Apakah ia masih bersuara atau tidak?

Sesekali kami “mengganggunya” dengan mengusap kepala mungilnya, menunggu responnya atau gerakan kepalanya.

Alhamdulillah…ia masih hidup. Perut mungil masih kembang-kempis. Ia masih merespon usapan-usapan kami. Tapi memang sudah sangat lemah.

***

Adzan maghrib berkumandang. Alhamdulillah…

Hanya Allah jualah yang Mahatahu, betapa bahagianya hati kami saat adzan maghrib itu berkumandang. Itu pertanda sesudah menunaikan shalat maghrib, kami akan segera berangkat mengantar si mungil yang mewarnai 4 hari kami belakangan itu dengan serangkai warna indah menemui induk barunya di kawasan Tanjung Bunga, Makassar.

Kami sudah mengonfirmasi Pak Asparingga dan meminta alamat beliau. Dan alamat beliau pun sudah dalam genggaman. Kami bergegas. Susu dan air gula telah disiapkan oleh Ummu Miqdad sebagai bekal untuk si mungil.

Tiba-tiba…tring…

Sebunyi notifikasi massanger berdenting di HP.

“Maaf, K…Sepertinya saya belum bisa menerima kitten (istilah untuk anak kucing-pen)nya malam ini. Ada sedikit masalah di rumah…”

Sebuah pesan dari Pak Asparingga. Pesan yang sungguh tak kami harapkan. Kami lemas seketika. Tapi aku mencoba menenangkan diri. Mencoba menguatkan diri menjawab pesan itu meski dengan secuil harapan yang tersisa:

“Oh begitu ya…Semoga masalahnya segera mendapatkan solusi dari Allah…”

Aku dan Ummu Miqdad hanya membisu.

Kepadanya, aku katakan: “Mungkin memang Allah menghendaki kita membersamai si mungil itu sepenuhnya…”

Tiba-tiba…

Sebuah konfirmasi baru masuk lagi. Dari Pak Asparingga!

Dia mempersilahkan kami untuk membawa kitten kami ke tempatnya. “Saya tunggu di pos sekuriti, ya Kak…” pesannya.

Alhamdulillah…Ya Allah, segala puji hanya untukMu semata…

Maka, diiringi hujan yang perlahan menderas membasuh bumi, berangkatlah kami enam anak-beranak yang fakir ini menembus malam yang sudah semakin sunyi.

***

Malam itu, sekitar pukul 9 malam, di tengah hujan yang sungguh deras, disaksikan oleh satpam perumahan itu, kami menyerahkan si mungil kepada Pak Asparingga. Beliau menerimanya dengan penuh hangat di bawah payung yang menanunginya di tengah deras hujan itu.

Malam itu, kami berpisah dengan si mungil kami. Ada kesedihan yang tak terkira mendalamnya. Salah satu putri kami sempat mengambil gambar di mungil kami itu sebelum diserahkan. Putri terkecil kami menangis keras dalam perjalanan pulang. Ia sungguh tak menyangka jika si mungil itu akan dititipkan selamanya kepada induk barunya. Dipikirnya, si mungil itu hanya akan disusukan beberapa waktu, lalu kami masih akan membawanya pulang kembali.

 

 

Aku mencoba menenangkannya.

“Insya Allah, semoga si mungil itu bisa tumbuh besar, dan 1-2 bulan lagi kita akan menjemputnya kembali, Nak…”

Tapi, tidak bisa dipungkiri suasana jiwa kami malam itu. Sedih dan sedih, tapi lega di saat bersamaan, karena yakin telah melakukan langkah yang seharusnya: menyerahkannya kepada induk baru yang selama ini ia butuhkan.

Sekitar 15 menit sesudah itu, giliran Ummu Miqdad yang tak kuasa menahan tangisnya. Di bilangan Jalan Hasanuddin, Makassar, kami sekeluarga berhenti sejenak menenangkan diri. Membiarkan air mata tumpah, dan merasakan nikmat rasa kasih sayang yang dikaruniakan Allah kepada kami terhadap sesama makhlukNya…

Setibanya di rumah, sebaris pesan WA dari Pak Asparingga kembali masuk.

“Alhamdulillah, K…Kitten-nya sudah bergabung, dan induk barunya sudah menjilatinya dan menerimanya dengan baik…”

Kami sungguh bahagia. Kami berpelukan bahagia diiringi air mata. Satu misi amal shalih keluarga yang membahagiakan itu telah selesai malam itu.

Alhamdulillah, malam itu kami dapat beristirahat dengan tenang dan bahagia…

Esok adalah hari Jum’at yang mulia.

***

Pagi hari Jum’at yang mulia…

Sekitar pukul 7 sebuah pesan WA dari Pak Asparingga kembali masuk.

“Kak…Kitten yang dititipkan semalam tadi pagi ini sudah meninggal…”

Innaa lillaahi wa innaa ilahi raaji’uun…

Si Mungil kami yang cantik itu akhirnya pergi meninggalkan kami selamanya. Aku menghapus pesan itu. Termasuk foto terakhir si mungil yang telah tiada itu. Aku memilih memberitahu langsung Ummu Miqdad dan anak-anak.

Dan pagi itu, rumah kami yang mungil itu dipenuhi air mata. Meski si kucing mungil itu hanya membersamai kami selama 4 hari, tapi -demi Allah- itu adalah 4 hari yang luar biasa dalam kisah hidup kami ini.

Itu adalah 4 hari yang meski merepotkan, tapi dipenuhi bahagia.

Selama 4 hari itu, “utusan Allah” berwujud kucing mungil itu telah mengajari dan mentarbiyahi kami sekeluarga banyak hal. Termasuk memberi kami sebagai orangtua sebuah kesempatan untuk mengajarkan nilai-nilai keindahan Islam kepada buah hati kami.

Selama 4 hari itu, secara berulang-ulang, kami mengingatkan anak-anak bahwa semua yang kita lakukan pada si mungil itu bukan sekedar karena “kalian menyukai kucing”. Tapi ini adalah tentang kasih-sayang kepada makhluk Allah, terutama yang lemah. Kita berusaha melakukannya -dan melakukan kebaikan apapun- karena Allah. Bukan sekedar karena kita “senang melakukannya”, atau itu memang menjadi interest kita.

Selama 4 hari itu, kami diberi kesempatan untuk memastikan bahwa anak-anak kami -dengan segala kelebihan dan kekurangannya dibanding anak-anak lain- masih terkaruniai rasa kasih-sayang kepada sesama makhluk. Masih ada air mata cinta dan kasih yang mudah menetes untuk makhluk-makhluk Allah yang lemah. Itu adalah nikmat tak terkira dari Allah Ta’ala.

Selama 4 hari itu, kami diberi momentum untuk menanamkan bahwa segenap ibadah dan ilmu yang kita miliki dan lakukan harus terwujud dan terkasatmatakan dalam wujud kebaikan pada sesama makhluk. Empat hari itu menjadi momentum mengingatkan mereka tentang pesan penting dalam kisah yang dituturkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Suatu ketika, seorang pria berjalan di satu jalan dimana ia mengalami rasa haus yang sangat.

Hingga ia menemukan sebuah sumur. Ia pun turun ke dalamnya dan minum.

Lalu ia keluar, dan ternyata ada seekor anjing yang menjulurkan lidah (kehausan).

(Anjing) itu menjilat-jilat tanah karena kehausan.

Pria itu pun berkata:

‘Anjing ini benar-benar mengalami kehausan seperti yang aku alami sebelumnya.’

(Pria itupun) turun kembali, lalu memenuhi sepatunya dengan air,

lalu menahan (menggigit)nya dengan mulutnya. Hingga ia naik, lalu memberi minum anjing itu.

Maka Allah pun berterima kasih padanya, lalu mengampuni dosanya.

(dalam riwayat lain: dan memasukkannya ke dalam Surga).

Para sahabat pun bertanya:

“Wahai Rasulullah, apakah kami akan mendapatkan pahala pada hewan-hewan itu?”

Beliau menjawab:

“(Menolong) setiap lambung yang basah (maksudnya: makhluk hidup) itu ada balasan pahala.”

(Muttafaqun ‘alaihi)

***

Hari Jum’at kali itu sungguh penuh air mata.

Air mata kesedihan. Sekaligus juga air mata kebahagiaan. Kebahagiaan karena telah berikhtiar semaksimal diri menyelamatkan sesosok makhluk Allah yang indah itu.

Hingga di penghujung Jum’at yang sendu itu, Ummu Miqdad berucap sendu di hadapanku: “Aku berdoa, jika kelak aku diperkenankan menjejaki Surga Allah, aku akan meminta dipertemukan dengan Si Mungil kita itu…”

Yah, semoga kami sekeluarga termasuk mereka yang kelak dimasukkan ke dalam Surga disebabkan oleh si mungil kecil itu.

Alhamdulillah…Terima kasih untukMu, ya Allah, telah mengutus si mungil itu dan menitipkannya kepada kami dalam 4 hari yang indah itu. Semoga Engkau karuniakan keikhlasan untuk kami atas 4 hari itu, dan atas segenap hari kami di dunia ini…

 

 

Makassar, 23 Januari 2021.

Muhammad Ihsan Zainuddin

 

 

 

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *