KISAH AL-QASHIMY YANG “TAK BIASA”…

  • 2 min read
  • May 03, 2020
Abdullah al-Qasimi

 

Tak ada yang mengira…

Karena ia bukan kalangan biasa.

Tumbuh besar di jantung Jazirah Arabia.

Menjadi seorang penuntut ilmu nan setia.

Menoreh dalam keindahan sastra.

 

Al-Qashimy bukan “ustadz” biasa.

Dengan bilah pena-nya,

ia menoreh beberapa karya tak biasa.

Satu diantaranya dengan tajuk:

al-Shira’ Baina al-Islam wa al-Watsaniyah”

(Pertarungan Antara Islam dan Paganisme).

 

Tak kira-kiralah al-Qashimy ini di sini:

ia menjawab segala tudingan Syekh Muhsin al-Amin,

seorang pemuka Syiah yang menghunjam

segenap dakwah Ahlusunnah,

terkhusus dakwah Syekh Muhammad bin Abd al-Wahhab!

 

Buku hebat ini menuai pujian setinggi langit.

 

Syekh Hasan al-Qayany dalam Majalah al-Muqtathaf

(edisi 10, Februari 1947 M) menorehkan:

 

“Hingga saat aku duduk bersamanya,

aku pun menyimak pembicaraannya yang indah,

aku layaknya menyimak seorang alim berlautan ilmu

yang menyelami ilmu agama dan sosial.

Aku pun berkenalan dengan

ilmu Sang Najdy (orang Nejed) al-Qashimy ini.

Aku pun duduk bersamanya dari waktu ke waktu…”

 

Bahkan Syekh Abd al-Zhahir Abu al-Samh,

imam Masjidil Haram di zamannya

menggubah syair panjang penuh puji dan puja

kepada “Tuan” al-Qashimy ini…

 

Dan tak kira-kiralah al-Qashimy menulisnya.

Buku itu dirilisnya dalam 2 jilid tak terduga!

Oh, bukan 2 jilid…

Karena di ujung halaman jilid ke-2 bukunya,

al-Qashimy menorehkan:

 

“Selesai sudah jilid kedua ini.

Akan berlanjut pada jilid ketiga…

 

Abdullah al-Qashimy, Kairo.”

 

***

 

Tapi yang tak terkira adalah

akhir kisah “Tuan” al-Qashimy ini…

 

Setelah kisah juang jihad dan dakwahnya:

dalam lintas ruang waktu 15 tahun,

“Tuan” al-Qashimy berakhir di sesat yang kelam.

Penulis hebat itu berakhir dalam kisah seorang ateis.

Ia menjadi seorang ateis!

 

Hingga Syekh Ibn ‘Aqil al-Zhahiry berdoa

-karena kekaguman yang sungguh pada karyanya-:

 

“Semoga hidayah Allah menjemputnya

Sebelum nyawa tiba di batas tenggoroknya,

hingga ia berakhir dalam husnul khatimah…”

 

Tapi “Jilid ke-3” buku yang dijanjikannya itu:

tak pernah ada…

Kerna usai “Jilid ke-2” ia torehkan,

tak lama kemudian al-Qashimy telah tersesat jalan…

 

Ya Allah…

Betapa rapuhnya jiwa kami para hambaMu ini!

 

***

 

Lalu,

siapakah kita ini, Kawan?

Dengan ilmu yang seberapa,

bayangkanlah betapa rapuhnya pertahanan diri ini…

 

Siapakah kita ini, Kawan?

Dengan karya juang di jalan dakwah yang tak seberapa,

bayangkanlah betapa derasnya jiwa

selalu berhajat pada hidayah Sang Penciptanya:

agar tak terjungkal menjadi hamba tak tahu diri…

 

Lihatlah anak-anakmu:

Siapakah yang menjaminmu jika telah tiada dirimu,

masihkah sujud-sujud jiwa-raga mereka hanya pada Allah?

 

Pandanglah anak-anakmu:

Meski hari ini majlis al-Qur’an adalah majlis mereka,

jangan terhanyut oleh hafalan al-Qur’an mereka!

Karena ribuan pengikut Khawarij adalah

para penghafal al-Qur’an di zaman mana

Sang Rasul belum terlama meninggalkan dunia fana!

 

Duhai Allah, Sang Pembolak-balik hati…

Teguhkanlah hati ini,

dan hati-jiwa keturunan kami,

agar tak putus berpijak di jejak yang Kau ridhai.

 

 

Akhukum,

Muhammad Ihsan Zainuddin

 

 

 

 

 

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *