KISAH AL-SUYUTHI YANG HEBAT…  

  • 2 min read
  • May 01, 2020
Kisah Imam al-Suyuthi

 

Terlalu sering:

kisah indah yang kau baca hari ini,

tak seindah itu pada awalnya.

 

Terlalu selalu:

kisah cemerlang yang kau kagumi,

tak secemerlang itu pada mulanya.

 

Tapi si empunya kisah itu pastilah hebat,

kerna punya jiwa yang tabah

meniti setiap jejak kelam dan kecewa

hingga kakinya tiba di puncak cahayanya!

 

Si empunya kisah itu nyatalah perkasa,

karena jiwanya bersikukuh sepenuh asa

menerabas segala kisah sedih dan duka,

hingga puncak gemilang itu sendiri yang rindu padanya!

 

***

 

Siapa tak kenal al-Imam al-Suyuthi

-rahimahullah-?

 

Konon dengan jemarinya,

setidaknya ia telah menulis

lebih dari 1000 judul buku!

 

Hanya sepertiga diantaranya

yang telah dicetak hari ini.

Duapertiga yang tersisa:

antara hilang atau terpenjara di alam manuskrip…

 

Di genap usianya yang 40 tahun,

Al-Suyuthi mewakafkan jiwanya untuk ilmu.

Menutup pintu untuk para penguasa.

Tak sudi menerima pemberian mereka.

Tak sudi memenuhi undangan mereka.

Jiwanya lurus menerabas jalannya.

Menggapai obsesi para penempuh jalan Anbiya’.

 

Tapi itu punya awal kisah tersendiri.

Awal kisah yang mengiris hati…

 

***

 

Sebelum itu,

Al-Suyuthi telah mengkritik “pejabat sufi”

di madrasah waqaf bernama “al-Khan-Qaah”.

“Kalian tidak sejalan dengan syarat

yang diinginkan oleh pewakaf,” kata al-Suyuthi.

 

Mereka pun marah, dan terprovokasi.

Mereka mengangkat al-Imam al-Suyuthi,

lalu menghempasnya ke sebuah got,

lengkap dengan jubah dan serbannya…

 

Muridnya, Ibnu Iyas, menyebutkan:

Al-Suyuthi pun keluar dari aliran air itu,

memperbaiki pakaiannya,

lalu pulang kembali ke rumahnya;

di Raudhah al-Miqyas…

 

Di sanalah ia berdiam diri.

Menutup tingkap jendela rumahnya

yang menghadap Sungai Nil.

Lalu menulis bukunya:

Ta’khir al-Zhulamah ila Yaum al-Qiyamah”

(Menunda Balasan untuk Pezhalim hingga Hari Kiamat).

 

Di sanalah bermula kisahnya,

Sang ‘alim besar dari Mesir itu

menyepikan diri dari dunia yang hiruk,

untuk meninggalkan warisan kebajikan tiada akhir

bernama: “ilmu nan bermanfaat”…

 

Tafsir “al-Durr al-Mantsur”.

“Jam’u al-Jawami’” dalam hadits.

“Tadrib al-Rawi” dalam ilmu hadits.

“al-Asybah wa al-Nazha’ir” dalam kaidah fikih,

juga di ranah ilmu nahwu.

“Tarikh al-Khulafa’” dalam sejarah.

Dan teruslah menyebutkan senarai karyanya,

karena lembaran ini tak mampu menorehnya…

 

***

 

Begitulah kisah “kecemerlangan” al-Suyuthi.

Bermula dari sebuah kezhaliman.

Bermula dari sebuah penghinaan.

Mungkin juga bermula dari jiwa yang kecewa.

 

Tapi mungkin sekali,

Al-Suyuthi takkan menorehkan legenda amal shalihnya itu,

jika ia tak lewati kegelapan dan kesuraman itu!

 

Benarlah kata si bijak:

“Kesuraman adalah

halaman pertama kecemerlangan.”

 

Apakah engkau siap dengan tabah:

melewati jejak kesuramanmu, Kawan?

 

(Note:

Kisah di atas adalah salah satu versi

tentang mengapa al-Imam al-Suyuthi

lalu memilih untuk beruzlah demi karya-karyanya…)

 

Akhukum,

Muhammad Ihsan Zainuddin

https://IhsanZainuddin.com

https://t.me/IhsanZainuddin (Telegram)

 

 

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *