MENCARI USTADZ…

  • 5 min read
  • Mar 12, 2021
Mencari Ustadz

 

Di ujung majlis online itu, seorang ibu bertanya:

Ustadz, bagaimana tips-tipsnya dalam memilih ustadz yang sesuai dengan al-Qur’an dan al-Sunnah?”

Pertanyaan yang “bagus” dan menggelitik di saat yang sama.

Mungkin pertanyaan itu sekaligus mewakili sebuah kegelisahan pada generasi muslim modern di tengah arus perputaran informasi yang tak tertahankan. Bayangkan saja: ratusan, ribuan bahkan puluhan ribu video kajian Islam setiap hari -mungkin- dipublikasikan via Youtube. Mulai dari video kajian yang utuh sampai video yang diserpih-serpihkan menjadi video pendek.

Anda diberi kebebasan untuk memilih: mau menonton video ustadz siapa saja. Tapi di situlah titik paling menggelisahkannya. Kebebasan itu menciptakan gelombang kebingungan yang tak terkira:

Ustadz siapa yang harus didengarkan?

Video mana yang layak ditonton?

Nasihat siapa yang harus dipegangi?

Pendapat siapa yang harus diikuti?

Siapa yang sesat? Siapa yang tidak sesat?

Siapa yang benar? Siapa yang salah?

Di tengah semangat dan spirit umat Islam untuk mengetahui “Islam yang sebenarnya”, Islam yang murni dari sumber-sumber aslinya yang paling bertanggung jawab (al-Qur’an dan al-Sunnah), lahir sebuah kegelisahan.

Kegelisahan semacam itulah yang mungkin -salah satunya- kemudian mendorong sebagian pihak “menerbitkan” semacam daftar/list berisi sederet nama ustadz yang dikategorikan sebagai “Ustadz-ustadz Sunnah”. Siapa pun pembuat daftar itu, saya yakin niatnya adalah sebuah niat yang mulia. Mungkin pembuatnya dahulu juga adalah “pelaku hijrah yang bingung”, sehingga ia berniat membantu para pelaku hijrah baru agar tidak mengalami kebingungan yang sama: “harus belajar kepada siapa?”

List itu menyebar sedemikian rupa luasnya ke mana-mana. Daftar “Ustadz-ustadz Sunnah” itu kemudian Anda temukan nangkring di layar Facebook Anda, di Instagram Anda, lalu berpindah ke Whatsapp, masuk ke Telegram dan entah ke mana lagi…

Pada sisi yang berseberangan, “Daftar Ustadz Sunnah” tentu saja menimbulkan reaksi yang beragam. “Kalau semua yang ada dalam daftar itu adalah ‘Ustadz Sunnah’, apakah itu berarti ustadz yang namanya tidak dicantumkan di sana termasuk ‘Ustadz Bid’ah’?” adalah salah satu reaksi dan respon paling populer terhadap daftar tersebut.

Memang tidak mudah untuk menahan diri melahirkan kesimpulan-kesimpulan terbalik (mafhum mukhalafah) terhadap fenomena “Daftar Ustadz Sunnah” tersebut. Walaupun hingga hari ini, saya sendiri berusaha untuk berprasangka baik, baik para ustadz yang mulia -yang namanya tertuang dalam “daftar” tersebut- tidak pernah memberikan arahan untuk membuat list itu.

Tapi kita harus jujur -diakui ataupun tidak- “daftar” itu memberikan dampak yang kurang baik juga pada akhirnya. Setidaknya fenomena itu melahirkan sebentuk fanatisme model baru yang sebenarnya tidak perlu. Atau -meminjam istilah sebagian pihak-: sebentuk hizbiyyah baru. Ada beragam konsekwensi besar yang muncul akibat ada ustadz yang masuk dalam “daftar” dan ada ustadz yang di luar “daftar” itu.

Fungsi dan tugas ilmu sebagai pemandu mencari kebenaran pun menjadi tumpul dan lumpuh. Hikmah tidak lagi menjadi “harta kaum muslimin” yang hilang, yang harus diambilnya meski ia jatuh ke tangan siapapun.

 

***

 

Atas soalan itu, saya pun memberikan pandangan saya kepada sang ibu penanya -dan semua yang menyimak majlis itu-. Saya menyatakan seperti ini kira-kira:

Jika kita ingin mengetahui, mempelajari dan mengamalkan kebenaran, maka tips paling utamanya bukan dengan mengetahui “daftar ustadz yang layak dijadikan guru”. Tips paling utama -bahkan paling puncaknya- menurut saya adalah meminta dan memohon dengan hati yang jujur kepada Allah agar ditunjukkan kebenaran.

Yah, seringkali di situlah letak masalahnya. Kita lupa bahwa sumber segala hidayah kebenaran itu dari Allah semata-mata. Kita lupa bahwa para ustadz dan ulama yang mulia itu “tidak lebih” dari sekedar penyampai -apa yang diistilahkan sebagai:- hidayah al-irsyad. “Sekadar” memberikan penjelasan.

Tapi apakah kemudian kita: berhasil memahami penjelasan itu dengan benar, mengilmui jalan kebenaran sebagaimana mestinya, lalu terdorong mengamalkannya; semua itu adalah wewenang Allah Ta’ala semata. Ini yang biasa diistilahkan oleh para ulama sebagai hidayah al-taufiq.

Pada titik ini, kita seringkali terjatuh dalam kesalahpahaman yang mengerikan. Yang meski tak terucapkan, tapi memberikan kesan yang sangat jelas bahwa kita (sepertinya) menyandarkan dan mengandalkan “para ustadz” dan “kitab-kitab rujukan” yang kita baca itu sebagai penjamin kebenaran kita.

Kita lupa bahwa di sepanjang sejarah manusia, betapa banyak manusia yang berguru pada guru dan ulama terbaik, tapi kisah hidupnya terjerembab dalam binasa dunia dan akhirat. Betapa banyak insan yang kononnya membaca kitab dan rujukan paling direkomendasikan dalam belajar Islam, tapi jalan hidupnya menyimpang sejauh-jauhnya dari jalan yang haq!

Menyandarkan hidayah kebenaran pada manusia betapa sungguh berbahayanya. Tidak pernah boleh dilupakan: hati kita -tempat dimana hidayah itu ditempatkan olehNya- dikuasai sepenuhnya oleh Sang Penciptanya. Allah Ta’ala membolak-balikkannya sebagai yang dikehendakiNya. Sesuai kelayakan sang hamba itu di sisiNya sebagai penerima karunia hidayah itu.

Karena itu, salah satu doa yang tak pernah diluputkan oleh para ulama rabbani adalah doa nabawi:

Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbiy ‘ala diinika…

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu.”

Jadi sebelum “memilih ustadz” tempat belajar, pastikan bahwa kita memang tulus dan jujur ingin mengetahui kebenaran. Bukan mencari pembenaran. Bukan untuk merasa paling benar. Bukan karena “menyalah-nyalahkan” dan “menyesat-nyesatkan” orang lain terasa begitu nikmat di hati kita.

Bukan.

 

***

 

Untuk sedikit mengambil ibrah tentang itu…

Tentang betapa pentingnya menunjukkan kepada Allah Ta’ala bahwa kita bersungguh-sungguh merindukan kebenaran, maka coba kita renungkan sedikit tentang “pencarian” Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dahulu,  Sang kekasih kita, Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Jibril ‘alaihissalam belum lagi menerima perintah untuk menemui  beliau demi menerima wahyu Allah Azza wa Jalla.  

Tidak hanya Mekkah. Tapi segenap penjuru dunia ketika itu hidup di tengah kejahiliyahan yang pekat. Tidak ada majlis ilmu tempat bertanya. Tidak ada guru tempat meminta nasihat. Tidak ada buku panduan yang dapat dibaca demi mendapatkan petunjuk.

Sama sekali tidak ada celah dan jalan untuk menemukan titik kebenaran.

Tapi di dalam jiwa seorang Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada sebuah kejujuran dan keyakinan yang bulat sekaligus. Kejujuran yang tulus untuk mencari dan memburu kebenaran, serta keyakinan yang bulat bahwa ada Tuhan alam semesta yang menjadi sumber segala kebenaran itu yang akan mengaruniai kebenaran itu sendiri.

Maka ia tunjukkan kejujuran jiwanya itu dengan menempuh jalan-jalan yang sulit dan terjal ke Gua Hira’. Mungkin itu menjadi perjalanan tergalau dari seorang Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kegalauan seorang hamba yang gelisah melihat kepekatan zaman. Kegalauan seorang hamba yang gelisah merindu cahaya kebenaran. Kegalauan entah harus mencari ke mana dan kepada siapa?

Tapi itu sekaligus menjadi jalan pembuktiannya kepada Rabb alam semesta, bahwa “Hamba sungguh merindukan kebenaranMu, hamba tak tahu hendak ke mana dan kepada siapa belajar tentang itu, maka karuniai hamba petunjuk kebenaranMu itu…”

Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kepada kita: bagaimana seorang hamba memantaskan dan melayakkan diri untuk dikaruniai petunjuk kebenaran dari Allah. Kira-kira itulah mungkin ungkapan yang lebih tepat untuk menggambarkan hal tersebut.

Karena meski pada akhirnya engkau berguru dan bermajlis di majlis para ulama yang paling sejalan dengan Sunnah, itu sama sekali takkan menjamin engkau dikaruniai dan dikucuri hidayah kepada kebenaran. Sebab meski “guru dan majlis ilmumu benar”, engkau belum tentu benar.

Karena meski pada akhirnya engkau membaca kitab-kitab rujukan paling benar dan direkomendasikan para ulama Salaf, tapi engkau sebagai pembacanya belum tentu benar. Karena dengan membaca itu semua, belum tentu membuatmu layak menerima karunia hidayah dari Sang al-Haq.

Itulah sebabnya, engkau tidak boleh menapuk dada dan melandaskan kredibilitas kebenaran pendapat dan pandanganmu “hanya” karena engkau pernah/sedang berguru pada guru paling suci, atau telah/sedang membaca referensi paling valid kebenarannya. Karena rujukanmu benar, tapi engkau belum tentu benar!

Jadi layakkah kita menerima hidayah al-Haq itu?

Jadi sudah pantaskah menjadi penjejak jalan kebenaran itu?

Entahlah, kita tidak pernah tahu. Yang pasti jika sungguh-sungguh hati ingin menerima dan meniti jalannya, ingatlah “tips paling utamanya”: jangan putus dan berhenti memohon-pinta pada Sang Pengarunia hidayah itu, Allah Azza wa Jalla.

Di titik itu, seharusnya kita tak lagi dipusingkan dengan “daftar ini” atau “daftar itu”. Kita hanya harus berusaha keras memastikan bahwa hati dan jiwa kita benar-benar tulus dan jujur merindukan jalan kebenaran. Dengan begitu, kita insya Allah menjadi layak menjadi penerima karunia kebenaran itu.

 

Makassar, 25 Rajab 1442 (09 Maret 2021)

Muhammad Ihsan Zainuddin

 

 

 

 

 

Related Post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *